Awak dan Kaba: Sebuah Deja Vu



#1. Awak

Pengantar: Samarinda adalah ibukota Kalimantan Timur. Tidak seperti Balikpapan, di mana warganya menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, Samarinda menggunakan Bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulannya. Ini agak unik. Kota ini, menurut sejarah, didirikan oleh orang Bugis Wajo, dan dihuni oleh berbagai suku. Selain itu, kota ini merupakan enclave dari Kabupaten Kutai Kartanegara, kabupaten di mana warga Kutai menjadi penduduk asli yang cukup mendominasi.

Nah, terkait dengan bahasa pergaulan ini, saya mempunyai cerita yang termasuk lucu.

Awal tahun ajaran baru , di Pesantren Hidayatullah Sempaja, Samarinda tahun 1997. Datanglah santri baru dari Sebulu, Kutai Kartanegara. Sehari-hari dia memakai bahasa Kutai di tengah teman-temannya yang menggunakan bahasa Banjar dan/atau Bahasa Indonesia. Oh ya, santri-santri di pesantren ini multi etnis; anak-anak Transmigran dari Jawa dan Jawa Barat, Bugis, Dayak-Paser dan Benuaq, dan Banjar.

Oleh karenanya, Si Anak Kutai ini mudah dikenali. Alih-alih menggunakan kata "Ikam" atau "kamu", dia menggunakan kata "awak", bahasa Kutai untuk menyebut "kamu".

Dus, sepanjang dia menjadi santri, dia dipanggil "Awak" oleh teman-temannya.

#2. Kaba

2018, di Pesantren Hidayatullah perintisan Indralaya kejadian di atas seperti terulang lagi.

Di Palembang, bahasa pergaulan yang lazim digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari adalah bahaso Palembang. Nah, ada santri yang berasal dari Kabupaten Lahat, Pagaralam, Empat Lawang dan sekitarnya sering menggunakan kata "Kaba" untuk menyebut "kamu". Bahasa Palembang untuk ini: Kau (biasa) dan Kamu (halus). Kekhasan inilah yang menyebabkan adanya semacam penanda, santri-santri yang berasal dari Lahat kadang dipanggil "Woi Kaba".

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Itulah, kita akan dikenali dari kekhasan kita: bahasa, karakter, kebiasaan, pakaian, hobi, atau mungkin dari tubuh kita. Nah, sekarang jika ada pertanyaan seperti ini, sepanjang kita aktif di medsos, kita akan segera mengetahui jawabannya: Profesor siapa yang suka ngomong atau menulis kata "Dungu"?
Awak dan Kaba: Sebuah Deja Vu Awak dan Kaba: Sebuah Deja Vu Reviewed by Kosim Abina Aziyz on October 13, 2018 Rating: 5
Powered by Blogger.