Sepenggal Cerita di Bulan Ramadhan #1: Menjemput Imam Palestina

Prolog

Sebelum saya akan bercerita, terlebih dahulu saya akan menyampaikan alasan mengapa saya menulis postingan yang saya beri judul: Sepenggal Cerita di Bulan Ramadhan #1: Menjemput Imam Palestina ini.

Lembaga Amil Zakat Nasional  Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bekerja sama dengan Sahabat Al Aqsha | Sahabat Suriah menggelar program yang bertajuk Silaturrahim Ramadhan Bersama Imam Palestina disingkat Siraman Manis. 


Tahun ini, Siraman Manis digelar di 13 provinsi di Tanah Air: DKI Jakarta, Jawa Timur, DIY, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua.

Program ini merupakan program yang dilakukan secara intensif setiap tahun sebagai bentuk layanan edukasi kepada masyarakat di masjid-masjid selama Ramadhan sekaligus dalam upaya mewujudkan program-program Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di bumi para Nabi, seperti: Pesantren Tahfidz Abdullah Said dan Amin Bahrun, beasiswa mahasiswa kedokteran, dan lainnya.

Rumah Tahfidz  Ust. Amin Bachrun yang dibangun BMH di Gaza City, Palestina (sumber)
Berita pemberian beasiswa untuk mahasiswa Palestina dari BMH yang dimuat Harian Republika
edisi 24 Maret 2016
Ada Apa dengan Palestina?

Mungkin ada yang bertanya mengapa (harus) Palestina? Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Palestina merupakan sebuah entitas yang pertama kali memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia bahkan jauh sebelum Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. 

Negara Mesir, yang sering disebut sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia baru mengakui 7 bulan setelah Indonesia merdeka tepatnya 22 Maret 1946. Adapun Belanda sebagai penjajah negeri kita baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal pada 16 Agustus 2005, sehari sebelum peringatan 60 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, oleh Menlu Belanda Bernard Rudolf Bot dalam pidato resminya di Gedung Deplu. Pada kesempatan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menlu Hassan Wirajuda. Sedangkan Palestina, satu tahun sebelum merdeka, tepatnya tanggal 6 September 1944 sudah mengakui terlebih dahulu.

Berikut petikannya yang saya ambil ambil dari situs Astralog.org 

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina. M. Zein Hassan, Lc (Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia) dalam bukunya “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” (hal. 40) menyatakan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini—mufti besar Palestina. Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ beliau ke seluruh dunia Islam, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Seorang yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher (seorang saudagar kaya Palestina) spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia”. Setelah itu dukungan mengalir.

Selain itu, Palestina merupakan salah satu negara yang hingga kini masih mengalami penjajahan (oleh Israel). Sementara pada Pembukaan UUD 1945 pada alinea pertama berbunyi "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan" sehingga sangat jelas mengapa kita harus mendukung Palestina karena merupakan amanat Konstitusi. Oleh karenanya, hingga kini Indonesia merupakan sedikit negara yang tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel, meskipun negara-negara Muslim lainnya seperti: Turki, Mesir, Jordania membukanya.

Adapun dalam konteks agama, Palestina merupakan tempat di mana Masjidil Aqsha yang menjadi kiblat pertama kaum Muslim berada, tempat suci ketiga setelah Masjidil Haram di Kota Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah al Munawarah, tempat di mana Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra' dan Mi'raj untuk menerima perintah Shalat 5 waktu, hingga hari ini masih "dikangkangi" oleh penjajah Zionis-Israel. Itulah beberapa alasan mengapa kita harus mendukung Palestina.

Isu Palestina (yang selama ini  seperti identik dengan partai tertentu di negeri ini) merupakan masalah kita bersama: kemanusiaan, keagamaan, dan solidaritas Muslim. Bukan hanya milik partai tersebut.

Nah, itulah prolognya, agak serius ya! Baik, sekarang saya akan mulai bercerita.

21 Juni 2016

Pagi itu, saya mendapatkan pesan di WA dari teman di Medan. Informasinya, beliau berdoa semoga Imam Palestina yang bernama Syekh Nezar sebelum jam 12.00 sudah tiba di Bandara Kuala Namu. Nias pagi itu sedang hujan deras, dan dikhawatirkan akan menyebabkan keberangkatan dari Gunung Sitoli, Nias mengalami delay. Tentu saja kami ikut was-was. Jika memang delay hal akan menyebabkan jadwal yang sudah kami kami susun menjadi berantakan. Sementara warga desa Sritiga, 15 km sebelum Pelabuhan Tanjung Api-Api sudah jauh-jauh hari mempersiapkan kedatangan Imam Palestina. Bagaimana jika delay dan batal? Kami membayangkan akan terjadi kekecewaan yang besar pada warga di sana. Kami terus berdoa dan berharap, semoga hal itu tidak terjadi.

Pukul 12.00 kurang, ada pesan WA masuk. Isinya agar teman-teman di Palembang segera bersiap di Bandara bersiap untuk menjemput Syekh Nezar. Alhamdulillah! Kekhawatiran kami tidak terjadi. Selanjutnya kami segera ke bandara menggunakan dua mobil.

Pukul 14.00
Pesawat +AirAsia dari Bandara Kuala Namu sudah mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Rombongan Syekh Nezar berjumlah 2 orang, beliau bersama dengan mutarjim (penerjemah) bernama Ust. Norman Ardiansyah, santri Hidayatullah kelahiran Bogor yang bermukim di Batam. 

Nah, kalau ingin tahu profil Syekh Nezar, berikut sedikit dari CV Beliau
Nama         : Syaikh Nezar Mohammad Abdelra’uof  Al Sheyab                                      
Tanggal Lahir         : 30 November 1994
Status pendidikan : Sarjana Universitas Yarmuk Yordania
Lain-lain        : Hafizh 30 juz, Memiliki Syahadah Qiraah Hafs, Juara I Musabaqah Quran Jordan  2015, dan Munsyid

Syekh Nezar dan kru BMH Palembang (narablog 2 dari kanan)

Setelah bertemu kami singgah dulu di rumah H. Tanjeng, tokoh masyarakat Desa Sritiga yang akan kami datangi, tepatnya di bilangan Kebun Bunga dekat Bandara dengan maksud agar Syekh Nezar bisa beristirahat sejenak setelah perjalanan yang melelahkan dari Gunung Sitoli-Medan, Medan-Palembang.

Kelelehan fisik, itu juga yang menjadi kekhawatiran kami. Sebelum ke Palembang, Syekh Nezar sudah melakukan Roadshow dari Timika (Papua) selama 10 hari, Batam 5 hari, Medan dan Nias 2 (?) hari, dan sekarang akan melakukan Roadshow di Palembang selama 5 hari kemuka .

Selepas shalat Ashar, kira-kira pukul segera berangkat menuju Desa Sritiga yang terletak di Jalur PU, begitu orang sini menyebutnya. Daerah Jalur yang menuju Pelabuhan Tanjung Siapi-api terdiri dari 3 Jalur: Jalur 17, 19, dan PU. Untuk daerah Jalur Genap seperti Jalur, 12, 14, 16, 18, 20 kita harus melewati Mariana jika menggunakan Jalur darat. Semuanya masuk Kabupaten Banyuasin.
Adapun Jalur ganjil seperti Jalur 21, 23, dan 25 masuk Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Jalur 17 dan 19 bersama Jalur berangka genap lainnya merupakan daerah transmigrasi (utamanya dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat) dan sentra penghasil padi utama dari Banyuasin. 
Tahun 2015, produksi padi gabah kering giling dari provinsi Sumatera Selatan sebesar 4,2 juta ton, 30,2%-nya merupakan produksi dari Kabupaten Banyuasin sebesar 1,267 juta ton.

Adapun Jalur PU, wilayah ini sebagian besar dihuni oleh warga dari suku Bugis. Desa Sritiga misalnya, 80% penduduknya merupakan warga suku Bugis Wajo dengan mata pencaharian sebagai petani kelapa dan nelayan. Mengunjungi desa ini mengingatkan saya pada Kaltim di mana dari daerah perbatasan Malaysia (kini masuk Kaltara) hingga ke Kotabaru (Kalsel), kawasan pesisirnya dihuni oleh warga dari Suku Bugis, Makassar, atau Mandar.

Menjelang Maghrib, rombongan sudah sampai di sana dan berbuka puasa di sana. Maa Syaa Allah, makanannya begitu berlimpah. Baik menu buka puasanya maupun makan malamnya. Tidak bisa saya sebutkan satu per satu, namun yang jelas ada ciri yang khas dari kuliner masyarakat Bugis: kuenya manis-manis bahkan cenderung salut gula, dan makanan beratnya tidak bisa meninggalkan jenis seafood. Jika kita penggemar makanan seafood, di sinilah "surga"nya!


(bersambung, In Syaa Allah)
Sepenggal Cerita di Bulan Ramadhan #1: Menjemput Imam Palestina Sepenggal Cerita di Bulan Ramadhan #1: Menjemput Imam Palestina Reviewed by Kosim Abina Aziyz on July 14, 2016 Rating: 5
Powered by Blogger.