Trip to Jogja #3: Industri Kreatif, Stereotip, dan Taksi Innova

(Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan
Trip to Jogja #1: Pramugari Berhijab, Trans Jogja, dan Tahu Kupat Monjali dan
Trip to Jogja #2: Kaliorang, Makan Tanpa Ikan, dan Malioboro)

Di Malioboro, saya dan teman menyempatkan diri mencari oleh-oleh. Sepanjang jalan yang "legend" ini penuh dengan para penjual cindera mata. Mulai dari t-shirt khas Jogja, kain batik dan turunannya, dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Saya membeli beberapa helai t-shirt sebagai oleh-oleh untuk anak-anak di rumah. Sekaligus menunjukkan bahwa Ayahnya memang benar-benar dari Jogja (memangnya penting, ya?) 
Pelajaran pertama yang bisa ambil dari Malioboro adalah bahwa industri kreatif dan pariwisata bisa menghidupi penduduk di suatu kota atau daerah. Membuka lapangan kerja baru sekaligus melestarikan identitas budaya suatu daerah.
Dalan Maliyabara (anekatempatwisata.com)
Saat membeli oleh-oleh, saya ditanya sama Mbak penjualnya,
Mbak-mbak     :  "Bapak dari Indonesia Timur, ya?" 
Saya                 :  "Nggak Mbak, saya dari Palembang. Memangnya saya punya ciri dari sana, ya?"
Mbak-mbak     :  "Yang saya tahu, orang dari Sulawesi atau Kalimantan kalau ngomong pakai 'kah 'kah gitu! Misalnya saja: berapakah?"
Saya                 :  "Ya, betul. Saya dulu tinggal di Kaltim selama lebih 18 tahun. Kalau mbaknya sendiri dari mana?"
Mbak-mbak     :  "Saya ini aslinya Lampung, masih tetangga sama Palembang"
Saya                 :  "Oh, jadi mbak orang Jawa, ya!" (saya langsung menebak, karena yang saya tahu 70 persen warga Lampung adalah keturunan Jawa)
Mbak-mbak     :  "Ya, Pak. Saya keturunan Jawa tapi saya sudah jadi orang sini, suami saya tinggal di  sini"


Setelah itu saya mengajak berbicara memakai Bahasa Jawa dengan harapan bisa mendapat diskon yang banyak saat belanja. Istilahnya, modus memakai pendekatan kesukuan. Namun saya harus memendam kekecewaan, karena harga cindera mata di Malioboro itu flat. Biar saya belanja di sebelah sana, sama juga harganya. Begitu kata Mbak-mbak tadi. Akhirnya, terpaksa saya mengalah. Apalagi kemudian datang rombongan yang berasal dari Bogor belanja di tempat yang sama.

Setelah membayar kemudian saya menanyakan rute jika mau ke Wirogunan (aslinya memakai bahasa Jawa)

Mbak-mbak     :  "Oh, Bapak mau ke LP, ya"
Saya                 :  "Nggak Mbak! Saya mau silaturahim tapi bukan ke LP"
Mbak-mbak     :  "Saya kira mau ke sana, soalnya kalau ada orang luar daerah mau ke Wirogunan biasanya mau membezuk keluarganya yang ada di LP"

Pelajaran kedua, hindari menyebut nama daerah yang identik dengan "wilayah merah atau abu-abu" jika kita ingin mengunjungi tempat itu. Jika kita bilang sama orang "Saya mau ke Gang D*lly, Surabaya" misalnya, maka jangan salahkan orang yang menduga-duga kita punya "kelainan jiwa". Untungnya, Wirogunan itu identik dengan LP bukan gang D*lly, jika sama maka naudzubillah :).

Karena sudah menjelang maghrib, kami lalu bergegas menuju deretan tukang becak. Setelah negosiasi dengan salah seorang tukang becak, disepakai tarif becak menuju Wirogunan dari Malioboro sebesar Rp40.000,00 untuk perjalanan sejauh 4 km! Menurut saya, tarif sebesar ini termasuk mahal, tapi gak apa-apa daripada jalan kaki, bisa tersesat nantinya.  Sejauh yang saya amati, warga Jogja termasuk tertib dalam berlalu lintas. Indikasinya saat lampu merah menyala, tidak terlihat warga yang menyerobot. Padahal hari sudah mulai gelap dan tidak ada Pak Pol yang terlihat.

Akhirnya, setelah bertanya sebanyak dua kali kami sampai di tempat tujuan. Tujuan sebenarnya adalah untuk silaturrahim, bertemu Ibu yang sudah 11 tahun tidak pernah ketemu. Setelah acara makan-makan -kami ditraktir makan di Rumah Makan- dengan menu ikan kakap merah besar, alhamdulillah, kami bersiap untuk pulang.

Karena hari sudah beranjak malam, kami harus menggunakan taksi (argo) untuk menuju Ngaglik Sleman sejauh 15-an km dari Wirogunan. Ada dua hal yang agak unik saat kami menumpang taksi malam itu
Pertama, taksinya bukan bukan berupa sedan seperti pada umumnya, namun berjenis Innova
Kedua, untuk menempuh jarak sejauh 15-an km, kami harus membayar tarif sebesar Rp100.000,-. yah karena tidak ada alternatif lain, ya mau gak mau.
Trip to Jogja #3: Industri Kreatif, Stereotip, dan Taksi Innova Trip to Jogja #3: Industri Kreatif, Stereotip, dan Taksi Innova Reviewed by Kosim Abina Aziyz on June 30, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.