Merantau: Nilai-nilai yang Bisa Kita Rasakan

Saya, termasuk orang yang ditakdirkan sebagai perantau. Sejak usia lima belasan tahun sudah meninggalkan kampung halaman ke tempat lain. Secara saya bukan ahli linguistik, saya menganggap kalau merantau itu sebelas dua belas dengan hijrah, urban, migrasi, atau diaspora.

Dandelion (mpenaroza.wordpress.com)
Banyak faktor/motif yang menyebabkan mengapa seseorang itu "merantau". Rasulullah SAW beserta para sahabat saat berhijrah dari Makkah ke Medinah karena motif iman dan keyakinan. Jengish Khan beserta bala tentaranya yang menginvasi berbagai negeri dari Mongolia hingga Eropa karena motif politik. Kaum Bugis-Makassar yang berdiaspora secara massif sejak ditanda-tanganinya Perjanjian Bongaya tahun 1667 karena faktor harga diri yang diinjak-injak VOC. Kolonialisme Barat ke seluruh penjuru Bumi karena faktor ekonomi dan Kristenisasi (3G), dan seterusnya.

Adapun saya, entahlah! Yang saya tahu saya harus melanjutkan sekolah saya. Orang tua saya tidak cukup mampu untuk membiayai sekolah ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dari SMP. Apalagi zaman itu belum musim sekolah gratis, pengobatan gratis, bikin KTP gratis seperti janji para politisi di negeri ini seperti sekarang. Makan bangku sekolah SMA termasuk mewah, semewah makan ayam goreng di pesawat Garuda kelas eksekutif rute Jakarta-Tokyo (boro-boro ke Tokyo, naik Garuda saja gak pernah)

Untuk itulah saya harus pergi meninggalkan orang-orang, keluarga, teman masa kecil yang saya cintai. Begitu pula gemericik air pegunungan yang dingin (saya ini orang gunung), hamparan sawah terasering, hutan tempat mencari rumput, buah hutan dan kayu bakar, sungai tempat mandi dan pup (:P), gunung Prahu yang begitu indah, kabut pagi, dan banyak lagi. Kemudian tinggal di tempat baru di keluarga yang begitu baik, yang menampungku dan mengajariku berbagai hal baru. Dari situlah hingga sekarang saya tidak lagi tinggal di kampung halaman.
Saya lahir di lereng sebelah utara gunung Prahu ini, sekira 7 km dari foto ini diambil. Sebelah selatan Gunung Prahu merupakan Dataran Tinggi Dieng (foto dari: suaramuhibbuddin.wordpress.com)
Dari pengalaman pribadi dalam merantau, ada beberapa nilai yang bisa kita rasakan

1. Menghargai Kebersamaan

Saat kecil berkumpul dengan adik, hampir tiap hari terjadi perkelahian. Berebut pisang, mainan mobilan, atau apapun bisa menjadi sumber "perang saudara". Dengan orang tua pun mirip-mirip, hampir tiap diceramahi. "Ayo cepat bangun sudah siang, sana ngaji, ayo cari rumput, jangan nakal, sing sregep, mandi sudah sore, ....."
Dan hal itu akan kita rindukan saat sudah pergi jauh. Hari pertama saya meninggalkan adik dan orang tua, saya tidak enak makan meskipun lauknya ayam. Padahal saat di rumah, saya baru ketemu ini makanan ketika ada acara tetangga yang sunatan atau nikahan, dan waktu lebaran. Saya ingat adik, apa yang dia makan di rumah? Sayur nangka mudakah, buntil, atau ikan kering? Di sini kadang saya merasa sedih saya baru menyesal, mengapa dulu kerjaannya berkelahi sama adik T.T

2. Menghargai hasil jerih-payah dan kemandirian

Tinggal bersama keluarga, kalau perlu apa-apa tinggal lapor. Meskipun tidak langsung dipenuhi, setidaknya ada sandaran dan harapan. "Mak, buku tulis saya sudah habis!" Kata Si Emak, "tunggu ya Nak, mudah-mudahan besok Bapak sudah jual kayu"
Saat di perantauan, kita harus mengusahakannya sendiri. Uang yang kita punya harus kita atur sedemikian rupa. Bukan hanya uang, masalah lain pun harus diselesaikan sendiri. Intinya harus mandiri. Di situlah, kita akan mengerti betapa beratnya perjuangan hidup itu. Pantesan dulu kalau minta sesuatu kepada orang tua, tidak langsung dituruti atau malah tidak dituruti. Tentu saja ini tidak berlaku bagi anak pejabat, pemilik rekening gendut, anak konglomerat dan koruptor, di mana uang yang dipunya seakan tak berseri, saking banyaknya.

3. Menghargai Perbedaan

Tinggal di kampung, bisa dikatakan homogen: adat kebiasaan, pekerjaan penduduk, kuliner, bahasa dan kepercayaannya. Saat keluar kampung, apalagi hingga keluar pulau, kita akan menemui beragam perbedaan yang menuntut kita untuk bersikap menghormatinya. Sesuai pepatah "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Sepanjang tidak menyelisihi aqidah sebagai prinsip hidup.

4. Menjadi Kaum Pembelajar

Saya pernah tinggal di daerah Dayak di Kutai Barat, pedalaman Kalimantan Timur. Agar bisa berkomunikasi dengan mereka, terutama kaum tuanya, setidaknya harus mengerti bahasa Kutai sebagai lingua franca di sana. Syukur-syukur tahu bahasa Dayak. Kalau generasi mudanya sih sudah biasa berbahasa Indonesia.

Para perantau biasanya dituntut untuk menjadi polygot sebagai salah satu skill dasar sebagai dasar ilmu untuk berkomunikasi. Itu dari segi bahasa, belum berbicara tentang adat, karakter, dan kuliner. Belajar adalah kuncinya.

5. Merasakan Kehadiran Tuhan

Kalau ditanya apakah Tuhan itu ada? Jawabnya, ADA! Namun apakah pernah merasakan "kehadiran"-Nya?
Bukan sekedar teori, para perantau pernah memiliki pengalaman ruhani seperti ini. Saat punya masalah besar dan jauh dari keluarga, ke mana diri hendak mengadu kalau bukan kepada Tuhan? Saat pulang kampung, "sendirian" di atas kapal Pelni di lautan luas, sambil menatap sunset di cakrawala, tak terasa jatuh air mata, bibir lirih berbisik, "Yaa Allah.... !" Atau saat mau pulang kampung, berharap bertemu keluarga, naik pesawat LCC (Low Cost Carrier) semacam Lion Air, tiba-tiba ada goncangan karena cuaca buruk, siapa yang akan disebut kalau bukan Tuhan? Para perantau pernah merasakan.

(mungkin bersambung)
Merantau: Nilai-nilai yang Bisa Kita Rasakan Merantau: Nilai-nilai yang Bisa Kita Rasakan Reviewed by Kosim Abina Aziyz on March 14, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.