Membincang Telat Menikah

Bakda shalat ashar kemarin, saya dan teman-teman ngobrol. Seperti biasa, topiknya tidak fokus , ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. Tidak seperti waktu musyawarah atau rapat: topiknya jelas dan terukur. Ada pembicaraan yang cukup menarik dalam obrolan tersebut yakni tentang adanya fenomena telat menikah. Ah, jadi kepikiran juga nih untuk membahas meskipun saya sudah menikah. Mohon maaf, bukan saya bermaksud untuk mendiskreditkan person tertentu. Sekedar "menekan keypad" saja.

Pengamatan subjektif saya, ada beberapa fakta -anggaplah demikian- berkaitan dengan fenomena telat menikah ini:
1. Orang yang saya temui kebanyakan berpendidikan tinggi. Ini agak janggal, orang berpendidikan tinggi itu 'kan punya banyak relasi, teman dan pergaulan luas. Logikanya mempunyai peluang yang lebih besar mendapatkan jodoh tapi koq begitu ya?
2. Orang yang saya temui "kebanyakan" justru orang berstatus sosial yang baik di masyarakat, baik jabatan, keturunan, harta maupun dari perawakan. Logikanya, mereka mudah dikenali gitu. Tapi kenapa susah?

Adapun hal-hal yang diduga menjadi faktor adanya telat menikah ini berhubungan dengan hal di atas:
1. Kecenderungan
Secara umum lelaki lebih cenderung menyenangi perempuan dengan status sosial di bawahnya atau setidaknya setara dalam hal pendidikan, kedudukan di masyarakat dan bahkan umur sementara perempuan cenderung untuk memilih yang di atasnya atau setidaknya yang sama. Yang jadi persoalan adalah jumlah laki-laki dengan status sosial yang tinggi, seperti puncak piramida. Artinya persentasenya sedikit.
2. Budaya
Pernikahan dalam suku tertentu, "mematok harga" yang tinggi bagi anak gadisnya. Jika dikombinasikan dengan tingkat pendidikan, keturunan, dan kerupawanan, maka akan semakin tinggi nilainya. Persoalannya, banyakkah pemuda yang kompatibel dengan persyaratan ini? Selain itu ada juga budaya yang suka mengotak-atik bobot hari. Ada hari baik, hari buruk, dst. What next?
3. Suka milih-milih
Faktor ini juga diduga menjadi salah satu penyebab. Jika ada gadis yang suka pemilihan, hal ini akan mempersempit peluang. Misalnya dalam suku, harus suku A, maka tentu saja suku yang lain akan masuk kotak. Bandingkan jika suku tidak jadi persoalan, peluangnya akan makin besar. Tidak A, B. Tidak B, C, dst. Begitu pula dengan yang lain: pendidikan, warna kulit, hobi, dst, jika banyak yang harus dipakai sebagai syarat, pertanyaannya adalah seberapa banyak manusia yang sempurna?
4. Karier
Jika ada wanita yang lebih mementingkan karier, ini disinyalir menyebabkan telat menikah. Mereka sibuk berkarir, tanpa terasa usia merangkak, saat sadar sudah tua, gadis-gadis abg begitu banyak, maka peluangnya makin mengecil. Saya pernah membaca situs eramuslim, katanya semua orang punya jodoh hanya saja kadang-kadang ada orang yang tanpa disadarinya malah menolak jodoh. Kalau ga' salah ada di rubrik konsultasi.

Kalau pengalaman saya, alhamdulillah, tidak ada masalah. Sebagai santri Hidayatullah, saya dinikahkan oleh lembaga bersama 43 pasang santri yang lain. Maskawinnya Alquran dan perangkat shalat saja. Kebanyakan dari kami dinikahkan lintas suku. Saya, Jawa. Istri, Sulawesi. Ada juga teman suku Dayak Tunjung beristri orang Aceh, Sunda dengan Manado. Sepertinya, di sinilah terjadi di mana pernikahan antar suku dilembagakan. Allahuyarham Ustadz Abdullah Said pernah berkata bersatunya Jawa dan Bugis itu ibarat Singa yang Bersayap. Nah, bila seluruh suku bersatu (benar-benar bersatu, bukan retoris), bagaimana hebatnya Indonesia ini. Pernikahan a la Pesantren Hidayatullah juga membuktikan bahwa Islam bisa mempersatukan Indonesia.
Terus apa hubungannya dengan topik di atas? Untuk usaha pencegahan "telat menikah", sebuah sistem yang mempermudah pernikahan mungkin patut dicoba.
--------------------------------------------------------------
Ovi Store: Fresh apps and more
http://store.ovi.com/?cid=ovistore-fw-bac-na-acq-na-ovimail-g0-na-4
Membincang Telat Menikah Membincang Telat Menikah Reviewed by Kosim Abina Aziyz on January 22, 2010 Rating: 5
Powered by Blogger.