Untuk Istriku: Tentang Mandar

Gadis Mandar dalam sebuah acara adat.


Istri saya tercinta adalah gadis dari suku Mandar kelahiran Toli-Toli, Sulteng. Dan artikel ini saya persembahkan untuknya, setelah saya cari-cari pakai google.
”Allamungan Batu Di Lujo” Menerjemahkan Eksistensi Manusia Mandar (Sulawesi Barat)
Oleh Armin Mustamin Toputiri

Persekutuan besar manusia Mandar dalam arti sesungguhnya dapat dipertemukenali pada lima pokok isi komunike yang dipersepakati 14 kerajaan yang berkuasa di kawasan Barat pulau Sulawesi. Tujuh kerajaan dari muara-pesisir (pitu baqbana binanga), masing-masing; Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju dan Binuang, serta tujuh kerajaan dari hulu-pegunungan (pitu ulunna salu) yakni; Tabulahan, Ralleanak, Bambang, Mambi, Rantebulahan, Matangnga dan Tabang, yang bersatu ikrar di Lujo, daerah bekas kerajaan Pasokorang, ditandai melalui upacara ”allamungan batu”.Permufakan Lujo menjadi akar peradaban yang memuati ke-eksistensi-an manusia Mandar. Secara internal, permufakatan itu mengejawantahkan hakikat kesejatian diri dalam menjunjung nilai-nilai kejujuran dan ketaatan pada hal ikwal yang bersifat subjektif, serta secara eksternal merupakan pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan sebagai mahluk yang berbudaya untuk memulai peradaban bersama secara madaniah yang sifatnya objektif.***Begitu maha agung dan bijaknya para tomakaka dan maraqdia Mandar --- yang berkuasa penuh pada ratusan tahun lampau --- dalam membijaksanai kedudukannya demi kemaslahatan masyarakatnya ke dalam suatu bingkai keutuhan eksistensi kemanusiaan. Begitu agung dan bijaknya permufakatan itu, bukan hanya untuk kepentingan pada masa itu, tetapi memikirkan jauh melampaui zaman mereka sendiri. Entah sampai kapan nilai-nilai yang terkandung dalam komunike Lujo ini akan berakhir.Pertama; mereka mensepakati adanya saling menghargai pemberlakuan hukum, adat, idiologi dan peradaban yang berbeda antara keduanya;Kedua; mereka mensepakati adanya garis keturunan bioliogis yang sama sehingga antara yang tua dan yang muda harus saling menghormati;Ketiga; mereka mensepakati adanya komitemen untuk saling menjaga harkat martabat masing-masing dan tidak akan saling menghianati;Keempat; mereka mensepakati adanya posisi saling berhadapan untuk membina tali cinta kasih, serta saling membelakangi untuk sama saling menjaga;Kelima; mereka mensepakati adanya kekuasaan dan kedudukan masing-masing sehingga berkewajiban saling mengangkat derajat kehormatan antara tomaka dan maraqdia***Sekali lagi sungguh luar bisa makna termaktub dalam persepakatan Lujo ini. Begitu multi dimensi, multi interpretasi, dan bahkan multi interpretable. Ia bukan syair kelong-kelong, bukan kalindaqdaq, bukan mantra-mantra dan bukan pula jampi-jampi, serta bukan pula maklumat berbentuk seruan. Tetapi ia lebih bernuansa pada komitmen bersama akan kesejatian diri tentang eksistensi manusia Mandar untuk selalu merawat harkat kejujuran terhadap diri sendiri sebagai mahluk sosial dan berbudaya. Karena itu kejujuran menjadi bingkai Manusia Mandar dalam melakukan proses peradaban.Manusia Mandar dalam makna permufakatan Lujo adalah manusia yang berdiri tegak lurus dalam memeluk harkat diri kemanusiannya. Menghormati akan perlunya konsensus dan kompromi-kompromi antara sesama dalam kearifan dan kebajikan bersosial dan berbudaya. Bukan karena adanya kepentingan sesaat, tetapi untuk masa yang sangat panjang. Manusia Mandar memiliki komitmen pada persepakatan. Patuh bukan karena sanksi dan laknat, tetapi pada i’tikad baik tentang apa yang pantas dan apa yang tidak pantas. Sehingga mencari manusia Mandar dalam kerangka pilihan, ia sirna dan menghilang, karena manusia Mandar adalah manusia bebas pilih dalam ikatan nurani kebersamaan yang menyatu dalam sikap dan prilakunya.***Allamungan batu di Lujo memang terlalu banyak menyimpan isyarat-isyarat makna terdalam akan harkat ke-eksistensi-an Manusia Mandar, sehingga untuk merumuskan Manusia Mandar untuk kesejatian dirinya dalam memaknai peradaban, bagai menghitung untaian tasbih yang tak pernah berakhir dan tak ada putus-putusnya. Selalu berputar tanpa ada mula dan akhirnya. Dimana akhirnya di situ jugalah awalnya. Sebaliknya dimana awalnya di situ jugalah akhirnya. Dia merotasi berputar tidak pernah mengenal berhenti. Berputar terus entah sampai kapan dan dimana ujung yang menjadi titik akhir.Manusia Mandar adalah manusia biasa sebagaimana manusia normal pada umumnya. Bangkit dari tidur, lalu tidur lagi sesudahnya, diantara siang dan malam. Saling berhadapan dan berpelukan pada malam hari untuk mengaktualkan cinta kasih pada sesama, dan saling membelakangi di siang hari karena ingin mengaktualkan tanggungjawabnya untuk saling melindungi. ”Londong mangngolo sau’, mane birang mangngolo tama”. Itulah pernyataan akan adanya penghormatan pada posisi, komposisi dan reposisi masing-masing. ”Tomakaka di pitu ulunna salu dan maraqdia di pitu baqbana binanga”.Itulah terjemahan bebas manusia Mandar, menanamkan permufakatan ke dalam tanah, agar selalu diingat dalam menapaki perjalanan hidup di muka bumi ini. Disimbolkan dalam bentuk batu untuk menunjukkan kekohannya yang tidak akan lekang di telan zaman. Begitu agung untuk dihormati dan begitu kokohnya untuk ditaati. Permufakatan itu di-allamungan-kan ke dalam perut bumi, sehingga jangan ada kehendak untuk mungkin mau mengiknya lagi, apalagi mau mengingkari dan memecahkannya. Inilah makna terdalam dari ”sipamandar”, sebuah pernyataan sikap tentang prinsip untuk saling menghormati dan menguatkan satu sama lain.***Allamungan batu di Lujo adalah suatu bentuk tindakan dalam ilustrasi simbolik untuk menyatukan sikap dari dua peradaban di antara dua kutub, antara hulu dan muara. Di tengahnya mengalir air sungai Mandar, dari pegunungan yang tinggi menuju pesisir yang rendah. Dari neneq di hulu, menuju ampo di muara. Menjadi simbol adanya satu kesatuan untuk saling memberi arti dan nilai kehidupan. Sekaligus menjadi isyarat bahwa manusia Mandar tidaklah ekslusif tetapi inklusif, karena mereka memaknai kehidupan seperti air pada sifatnya yang cair, lembut dan mengalir apa adanya, tetapi suatu ketika bisa pula menghanyutkan. Siapa meminum airnya sungai Mandar, maka dialah itu manusia Mandar.***Di era dunia yang kian mengglobal sekarang ini, permufakatan Lujo tetaplah menjadi bingkai ke-eksistensi-an dan peradaban Manusia Mandar. Tetapi di era pemberlakuan otonomi daerah di Indonesia sekarang ini, manusia Mandar berkehendak mengaktualkan secara lebih mendalam isi permufakatan yang di-”allamung-kan di Lujo ke dalam bentuk permufakatan lanjut. Manusia Mandar menanamkan batu di Galur Lombok, mendeklarasikan satu tekad untuk menyatukan wilayah yang termaktub dalam permufakatan Lujo ke dalam wilayah administratif propinsi, Propinsi Sulawesi Barat, namanya.Manusia Mandar berkehendak mereaktualisasi permaknaan ”sipamandar” untuk mereposisinya ke dalam satu bingkai wilayah pemerintahan, dalam rangka menyatukan secara geopolitik sisa-sisa takhta 14 kerajaan yang bermukim di wilayah Mandar. Tekad itu hanya sebatas administratif saja, karena dalam mengimplementasikan permaknaan ”sipamandar”, saling menguatkan, tentu tidaklah mungkin dibatasi ruang dan waktu, sebagaimana isi permufakatan Lujo yang tak akan lekang oleh ruang dan waktu. ”Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute, na sisaraq’i pitu ulunna salu na pitu baqbana binanga”
Sumber: Tabloid Mandar Pos, 21-31 Januari 2000

Postingan terkait:


  • Tanah Mandar Kuasa dalam Balutan




  • Kapal Sandeq
  • Untuk Istriku: Tentang Mandar Untuk Istriku: Tentang Mandar Reviewed by Kosim Abina Aziyz on March 01, 2009 Rating: 5
    Powered by Blogger.