Sagu dan Daging Ikan: Komponen Utama Makanan Khas Palembang

Sehabis shalat Maghrib, saya didekati oleh salah seorang pengurus masjid di lingkungan rumah. Beliau ngomong, "Pak, habis maghrib ini diaturi ke rumah, Yasinan!" Kebiasaan warga di tempat kami, ketika mengadakan acara seperti syukuran, atau Yasinan, cukup dengan mengumumkannya di masjid bakda shalat Maghrib. Jumlah undangan biasanya berkisar di bawah 50 orang. Adapun hajatan besar seperti pernikahan dan khitanan, pemberitahuannya pakai "Undangan" yang sudah lazim itu.

Seperti biasa, di penghujung acara ada sesi makan-makan. Yang paling sering adalah makan besar dengan menu a la prasmanan. Malam itu, menu yang disajikan berupa makanan khas Palembang. Coba tebak, apa? Betul sekali, pempek, ...... dan kawan-kawannya. Nah, sehabis acara Yasinan itu saya jadi kepikiran untuk menulis tentang makanan khas Palembang

**********

Makanan khas Palembang banyak ragamnya. Selain pempek, ada juga tekwan, model, lakso, kemplang, dan mie celor. Itu saja? Ya, itu saja yang pernah saya makan dan saya tahu. Maklum saya berbagi hidup di Jawa Tengah dan Kaltim dengan durasi yang sama. Di Palembang, baru beberapa tahun, jadi punya keterbatasan pengetahuan tentang kuliner di Palembang

Semua makanan khas Palembang yang disebutkan tadi (kecuali mie celor) mempunyai bahan yang sama sagu dan daging ikan.
Pertama, sagu. Sagu umumnya dikenal sebagai tepung hasil olahan batang pohon rumbia (Metroxylon sagu rottb) yang menjadi makanan pokok orang Maluku dan Papua. Namun, dalam pembuatan makanan khas Palembang, sebutan sagu mengacu pada tepung tapioka, hasil olahan dari singkong. Ketika kita membeli sagu maka jangan kaget jika diberi tepung tapioka. Konon, kedua bahan ini mirip teksturnya, dan sudah biasa "tertukar" dalam dunia kuliner. Maksudnya, sagu dan tapioka dianggap sama saja, apalagi jika bahan sagu susah didapat.

Metroxylon sagu (ggogle.com)
Bahan kedua, adalah daging ikan (misalnya tenggiri, belida, kakap merah, gabus). Daging ikan yang digunakan sudah berbentuk daging giling halus, setelah sebelumnya disiangi dan dipisahkan dengan kepala, insang, dan tulangnya. Banyak kok dijual di pasar seperti Pasar Plaju dan Pasar Induk Jakabaring.

Nih, sedikit informasi mengenai makanan khas Palembang

1. Pempek
Pempek dan cuko (pempekselamat[dot]com)
Bahan dasar pembuatan pempek: sagu dan daging ikan, dengan tambahan bumbu seperti bawang putih, penyedap, dan tak lupa garam. Pembuatan pempek biasanya dikombinasikan dengan bahan lain, seperti telur ayam  yang diberi adonan pempek diluarnya lalu digoreng, akan menghasilkan jenis yang bernama pempek kapal selam. Pempek yang berisi pepaya muda disebut pempek pistel. Jenis pempek yang lain biasanya tergantung dari bentuknya, seperti pempek lenjer, pempek telok kecik, pempek keriting, dan lainnya.

Penyajian pempek selalu disertakan juga cuko sebagai pasangannya. Cuko merupakan saus yang dibuat dari air yang didihkan bersama gula merah, bawang putih, udang ebi, cabe rawit yang dihaluskan, dan garam.

Jika Anda ke Palembang, makanan ini banyak kita temui di segala penjuru, baik di restoran, kedai kecil, atau di kaki lima. Harganya bervariasi ada yang Rp1000,- per biji ada yang Rp 2000,-.

2. Tekwan
Tekwan (tokopedia)
"Berkotek samo kawan", itulah kepanjangan dari tekwan. Tekwan merupakan sup khas Palembang. Berbahan dasar sama dengan pempek, sagu dan daging ikan. Sebagai hidangan sup, tekwan disajikan bersama kuah udang yang dihaluskan ditambah sohun, jamur, daun bawang, seledri, bawang goreng. 
Harga seporsi tekwan rata-rata Rp6.000,-. Tidak tahu kalau di rumah makan yang "elit", berapa?

3. Model
Model Palembang (blog.catallya.com)
Model, namanya sama dengan profesi orang yang berlenggak-lenggok di catwalk. Tapi yang ini makanan. Proses pembuatannya sama dengan pempek kapal selam. Bedanya, pempek kapal selam berisi telur sedangkan model biasanya berisi tahu. Adonannya sama saja terbuat dari sagu dan daging ikan. Disajikan bersama kuah udang, irisan mentimun, sohun, dan ebi.

Bersama pempek dan tekwan, model merupakan "sahabat karib" yang dijual di rumah-rumah makan khas Palembang. Harganya sama dengan tekwan.

4. Kemplang
Kemplang (mqueen602.blogspot.com)

Kemplang itu nama lain dari kerupuk ikan. Bahan dasarnya juga sama dengan pempek, tekwan, dan model: dari daging ikan dan sagu. Kemplang biasanya dimakan bersama sambal yang berair. Harganya bervariasi, ada yang Rp 5.000,- per bungkus atau Rp10.000,- per bungkus (seperti gambar pertama di atas). Ada juga yang dijual per kilo Rp25.000,- sampai Rp150.000,- tergantung dari jenis ikannya.

5. Mie Celor
Mie celor (lismadianagoblog.wordpress.com)
Dari dulu, saya termasuk salah seorang penikmat mie. Apakah itu mie instan, mie goreng, atau mie kuah kaki lima pinggir jalan. Saat di Palembang, saya menemukan adanya rumah makan yag menjual mie celor. Biar tidak penasaran, saya pun singgah dan membelinya. Seporsi Rp8.000,-.

Mie celor, menurut saya, bisa disebut sebagai mie kuah a la Palembang. Bedanya, kuah yang dipakai dalam penyajian mie celor adalah kuah santan dan kaldu udang. Ditambah potongan telur rebus dan tauge. Selain itu mie celor juga ditaburi daun bawang, seledri, dan bawang goreng. Lemak nian! Uji wong Palembang.

Jika Anda penderita asam urat, Anda harus meminta penjualnya agar tidak diberi tauge. Saya sempat kerepotan memisah tauge dari mie celor saat memakannya.

Demikian sedikit tulisan mengenai makanan khas Palembang.
Sagu dan Daging Ikan: Komponen Utama Makanan Khas Palembang Sagu dan Daging Ikan: Komponen Utama Makanan Khas Palembang Reviewed by Kosim Abina Aziyz on November 19, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.