(Tidak) Kentut Membawa Maut, Ini Penjelasannya!



Saat ikut pengajian, saya pernah mendengar dari Penceramah tentang cerita seseorang yang berani membayar mahal kepada pak dokter untuk mengobati penyakit akibat tidak bisa -maaf- kentut (selanjutnya akan digunakan istilah buang angin). Saya pikir ini sekedar lelucon dalam ceramah yang bertopik tentang pentingnya bersyukur, sambil berkata dalam hati "apa iya ada orang gak bisa buang angin? Saya tidak pernah menemui hal seperti ini"

♥♥♥♥♥♥♥

Hari ini, saat saya pulang ke rumah setelah "fantasyiruu fil ardh", saya melewati kerumunan di depan sebuah rumah tetangga, berjarak sekitar 200 meter dari tempat tinggal saya. Ternyata ada musibah kematian.

Setelah sampai rumah, saya mendapatkan informasi tentang penyebab kematian dari seorang bapak yang berusia 43 tahun tersebut yaitu beliau tidak bisa -maaf- buang angin yang dalam istilah medis disebut dengan "flatulensi"

Secara "lahiriah", aktivitas buang angin merupakan perkara yang bisa dianggap ringan: membuang gas hasil samping dari pencernaan makanan melalui dubur. Namun, perkara ringan tersebut ternyata bisa menjadi perkara yang besar.

♥♥♥♥♥♥♥

Dan berikut penjelasan mengapa tidak buang angin bisa membawa kepada maut yang  saya ambil dari Koran Tokoh, 610, 19 s.d 25 September 2010 melalui situs rathikumara.blogspot.com


JANGAN remehkan buang angin alias kentut. Jangan sampai Anda tidak kentut seharian. Berhari-hari tidak kentut dapat mengakibatkan kematian. Korban meninggal karena banyaknya gas terkumpul di dalam perutnya. Sebagian sari makanan yang kita santap setelah melalui proses metabolisme dalam tubuh diserap melalui usus. Sebagian lagi diserap produk kerja fermentasi, kerja bakteri, atau enzim yang berbentuk gas. Gerakan peristaltik usus ini selalu mendorong segala isinya ke bawah. Gas ini tertumpuk dalam lumbung usus. ”Kalau kapasitasnya sudah banyak harus dikeluarkan. Inilah yang disebut flatus atau kentut,” ujar ahli Penyakit Dalam Prof. Nyoman Dwi Sutanegera, M.D.

Kandungan gas dalam kentut antara lain berisi nitrogen, oksigen, metan, karbon dioksida, hidrogen. Gas yang keluar dapat berbau menyengat akibat kandungan gas bergugus indol atau hidrosulfida (S-H) yang tercampur. ”Jika kentut ditahan, akan mengakibatkan perut makin kembung dan mulas, dan bau khasnya tercium makin busuk. Itu disebabkan akumulasi gas yang terus bertambah di dalam perut,” jelasnya. Ia mengatakan, makanan yang mengandung protein seperti telur dan daging mempunyai peranan besar dalam memproduksi bau busuk kentut. ”Banyak makan karbohidrat relatif menyebabkan volume angin atau gas yang ditimbulkan lebih banyak. Contoh, ubi. Selain itu, ada beberapa obat yang dimakan seperti obat diabetes akarbose memiliki efek samping mengakibatkan pasien lebih banyak kentut,” paparnya. Namun, dalam keadaan tertentu, kata dia, proses gerakan peristaltik tidak berjalan baik akibat adanya sumbatan yang membuat kotoran menjadi keras atau suka makan-makanan yang keras atau sepet yang mengandung tanin seperti jambu biji mentah. Ini mengakibatkan susah buang air besar. Namun, kata Pemilik RS Sari Darma ini, ada juga kondisi yang serius menimbulkan sumbatan itu seperti tumor dalam usus. Makin lama usus itu terplontir sehingga terjadi gejala-gejala yang disebut ilius obstruktif. Gejala yang muncul tidak bisa kentut dan tidak bisa buang air besar. Perut terasa nyeri. Ia menjelaskan, angin harus dikeluarkan agar perut tidak menjadi kembung. Biasanya lewat pengobatan dengan dibuatkan pipa usus untuk mengeluarkan gas yang menumpuk tersebut. Jika tidak, tiap kali usus bergerak dan peristaltik meningkat, perut terasa sakit. Akibat pergerakan itu, kata dia, sel di permukaan usus mengalami peradangan dan mengeluarkan banyak cairan. Tiap ada penyumbatan pasti ada peradangan dan cairan banyak keluar ke dinding usus. ”Ini yang bisa menyebabkan kematian karena dehidrasi. Selain kehilangan cairan, mineral elektrolit dalam tubuh juga ikut tergerus. Tensi sudah tidak terukur, jantung bisa terkena dan bisa shock,” kata Prof. Dwi.

Ia menambahkan, penyebab lainnya gangguan saraf dan gangguan kalium. ”Seseorang karena penyebab tertentu menderita kadar kalium darah menurun diakibatkan gangguan ginjal. Muntah hebat karena diare mengakibatkan kadar kalium rendah. Ususnya kembung, tidak bisa kentut. Cairan menumpuk di saluran cerna,” katanya. Biasanya dokter mencari penyebab tidak bisa kentut terlebih dahulu. Apakah suara usus terdengar atau tidak. Apakah perutnya terasa keras sampai terdengar suara-suara. Bagi orang yang badannya kurus dapat dilihat gerakan ususnya. Ia mengatakan, pengobatan biasanya dilakukan lewat operasi untuk membuka sumbatan. Tidak jarang di sekitar tempat tersumbat, ususnya sudah mati. Biasanya usus dipotong dan disambung kembali. Dengan mengobati penyakit dasar, biasanya pasien bisa kentut lagi.

Sehabis Operasi Bagi pasien yang menjalani operasi besar biasanya mereka disarankan kentut terlebih dahulu sebelum minum sesuatu. Prof. Dwi menegaskan, ini erat kaitannya dengan obat bius yang digunakan. ”Kalau saluran cernanya belum bagus, jika pasien minum bisa menimbulkan batuk. Akan terjadi aspirasi saluran napas. Terjadi infeksi saluran paru dan fatalnya dapat mengakibatkan kematian. Biasanya setelah menjalani operasi, dokter pasti bertanya apakah pasien sudah kentut atau belum,” katanya. Ia menambahkan, sepanjang saluran masih terbuka dan tidak ada sumbatan, walaupun tidak bisa buang air besar (BAB), angin tetap bisa keluar. ”Lebih berbahaya tidak kentut dibandingkan tidak buang air besar,” ujarnya.BAB dianjurkan tiap hari. Ada juga yang punya kebiasaan dua atau tiga hari sekali. Selama mampu mengeluarkan kentut, tidak terjadi masalah. Santaplah makanan kaya serat agar tidak sulit BAB. Namun, kata dia, jangan sampai tidak kentut seharian. ”Karena malu akhirnya kentut ditahan. Lebih baik minta izin ke kamar mandi untuk mengeluarkan kentut. Kentut memang menimbulkan bau karena sisa pembakaran gas. Baunya yang khas tergantung makanan yang disantap,” kata Prof. Dwi. –ast
♥♥♥♥♥♥♥

Kita memang sering tidak menyadari bahwa banyak nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita. Bila nikmat ini sudah tiada, barulah terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga.

Saat kaki terkena asam urat, kita baru menyadari nikmatnya bisa berjalan kaki.
Saat mulut terkena sariawan, kita baru menyadari nikmatnya mengunyah makanan dan berbicara
Saat mata kelilipan, kita baru menyadari nikmatnya bisa melihat

Pesan Moral: "Yang terbaik hanyalah," kata Ebiet G. Ade "segera bersujud, mumpung kita masih Diberi waktu.'
(Tidak) Kentut Membawa Maut, Ini Penjelasannya! (Tidak) Kentut Membawa Maut, Ini Penjelasannya! Reviewed by Kosim Abina Aziyz on May 18, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.