Musibah Meninggalnya Bapak dan Traveloka

Desember tiba. Liburan sekolah dan akhir tahun akan segera hadir. Jauh-jauh hari kegiatan liburan sudah kita rencanakan. Berkunjung ke rumah nenek di kampung barangkali. Pergi ke pantai, gunung, air terjun, kebun binatang, water boom, atau mungkin ke luar negeri. Semuanya direncanakan, berapa anggaran yang dibutuhkan, durasi perjalanan, memakai moda transportasi apa, berapa orang yang akan berangkat, dan sejenisnya. Yah, kegiatan yang biasa disebut dengan traveling memang menyenangkan.

Nah, bagaimana jika traveling yang kita lakukan tidak direncanakan, mendadak, dan justru tidak menyenangkan? Saya pernah mengalaminya.

Tiga bulan yang lalu (18/08/2017), sepulang saya dari salat Jumat saya mendapati istri sedang menangis. Sebelum saya bertanya, saya mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak panik.  
"Dik, ada apakah? Kok menangis?"
"Bapak di Jawa meninggal dunia, Kak!"
, jawabnya "tadi ada telepon dari Jawa memberi kabar."

Bapak saya seorang perokok berat. Sesak nafasnya kambuh jika cuaca cukup dingin. Saat berita ini datang, beliau sedang di rawat di rumah sakit. Ini kali kedua beliau dirawat dan saya menduga beliau akan segera pulih apalagi kebiasaan merokoknya sudah dihentikan. Biasanya juga diberikan minuman dari jahe agar memberikan efek hangat di badan dan memperlancar pernafasan. Tidak lama kemudian Adik yang bekerja di Kalimantan Timur menelpon, menanyakan kapan saya akan pulang. Saya menjawab, "Besok, insya Allah!"

Begitulah, selanjutnya saya bermusyawarah dengan istri perihal berita kematian ini, terkait siapa yang akan berangkat dan ketersediaan anggaran. Maklum, kepulangan kali ini tidak direncanakan. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka aplikasi Traveloka di gawai saya. Aplikasi ini tersedia di Play Store dan AppStore untuk diunduh. Saya mencari tahu berapa tarif pesawat yang diperlukan untuk penerbangan dari Palembang ke Semarang. Melalui fitur best price finder, saya bisa memilih tarif yang sesuai dengan kondisi keuangan saya yang pas-pasan dan juga waktu dan maskapai penerbangan.

Selanjutnya, setelah mengetahui berapa tarif yang dibutuhkan, saya segera mem-booking pesawat. Pemesanan tiket melalui Traveloka, mempunyai tingkat kenyamanan yang tinggi karena bisa dilakukan di rumah. Hal ini tentu menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Tinggal menyentuh tombol dan mengisi beberapa data diri, kode booking pun akan segera didapat. Adapun untuk pembayaran tiket, Traveloka menyediakan 4 (empat) cara: kartu kredit, transfer ATM, direct debit, dan pembayaran via jaringan toko retail. Saya memilih pembayaran melalui salah satu jaringan toko retail yang ada di negeri ini. Maklumlah, saya tinggal di pinggiran kota Palembang tepatnya di Jalan Lingkar Selatan Jakabaring. Jarak terdekat dengan ATM maupun jaringan toko retail berkisar 6 km tepatnya di Plaju, Palembang. Sehingga saya memilih pembayaran tunai.

Di toko retail, saya memberikan kode booking dan petugas kasir mencetak struk pembayaran. Struk ini juga bisa berfungsi sebagai tiket karena tercantum di dalamnya kode penerbangan maskapai dan jadwal keberangkatan. Setelah membayar, segera muncul notifikasi melalui surel dan pesan singkat bahwa e-tiket sudah dicetak dan siap digunakan.

Besoknya saya ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. E-tiket yang ada di gawai, saya perlihatkan di depan Avsec. Setelah melalui pemeriksaan, saya menuju ke loket maskapai, kembali saya perlihatkan e-tiket ke petugas dan diberikan print out tiket.

Dan, penerbangan ke Semarang pun dimulai. Pesawat harus transit di Bandara Soekarno Hatta terlebih dahulu. Sesampai di Semarang sekira pukul setengah satu. Saya sampaikan ke keluarga agar segera dikebumikan saja jenazah Bapak. Tidak bagus kelamaan apalagi sudah bermalam. Saya prediksi sampai rumah paling cepat pukul 4 sore. Memang sih jarak dari Bandara A. Yani Semarang ke kampung di Kabupaten Batang relatif dekat, 71 km. Namun menurut informasi adanya kemacetan di Semarang akibat pembangunan flyover, membuat saya . Apalagi saya juga harus melewati jalur Pantura yang terkenal padat. Akhirnya, pukul 5 baru sampai rumah bertemu Mak'e dan keluarga. Molor satu jam dari perkiraan. Rupanya di kampung juga lagi musim karnaval Agustusan.
Musibah Meninggalnya Bapak dan Traveloka Musibah Meninggalnya Bapak dan Traveloka Reviewed by Kosim Abina Aziyz on December 04, 2017 Rating: 5
Powered by Blogger.