Bahkan Media pun Tidak Memihak Petani (?)

Beberapa bulan yang lalu, saya menjenguk sanak keluarga di kampung halaman. Ada pemandangan yang berbeda yang terjadi di kampung kami. Banyak sawah telah berubah menjadi kebun, ditanami keras seperti sengon, pohon jambu, dan ada pula pohon cengkeh. Tidak lagi terhampar tanaman padi seperti saat saya masih kecil.
Hamparan padi (dupont.co.id)
Menjadi petani sepertinya sudah tidak menarik lagi bagi anak muda sekarang. Banyak anak muda di kampung yang pergi merantau ke kota, Kalau pun ada yang tetap di kampung mereka lebih suka bekerja bukan sebagai petani. Alasannya sederhana, menjadi petani tidak menjanjikan secara ekonomi.

**********

Menurut situs Serikat Petani Indonesia, jumlah petani menyusut sebesar 5.090.000 keluarga dalam satu dasawarsa. Tahun 2003, jumlah rumah tangga petani berjumlah 31,23 juta keluarga menjadi 26,14 juta keluarga pada tahun 2013. Artinya, jumlah petani berkurang 509.000 keluarga per tahun.

Jumlah petani sebesar 26,14 juta keluarga itu pun didominasi oleh petani lanjut usia dengan persentase sebesar 87,15%, selebihnya petani dengan usia di bawah 34 tahun.

**********

Penghasilan petani berasal dari hasil pertanian yang mereka peroleh. Ketika harga hasil pertanian di pasaran tinggi, hal ini sangat menguntungkan bagi petani. Uang hasil penjualan inilah yang mereka pakai untuk menyekolahkan anaknya, membeli perlengkapan pertanian, bibit, beli televisi barangkali, membangun rumahnya barangkali, dan seterusnya.

Namun cobalah diingat! Dalam benak jutaan masyarakat Indonesia, yang namanya hidup sejahtera itu sering diistilahkan dengan "murah sandang, pangan, dan papan".

Baik sandang, pangan, maupun papan sebagian besar dihasilkan oleh petani. 
Sandang, oleh petani kapas. Pangan, oleh petani padi, jagung, kedelai, dan seterusnya. Dan papan, oleh petani yang menanam tanaman keras. Sebagai petani (sebagaimana pedagang) tentu akan senang jika harga-harga hasil pertanian bernilai tinggi (baca: mahal). Hidup mereka akan sejahtera!

Namun lihatlah apa kata media jika harga-harga pertanian tinggi

1. Ketika harga beras naik, beritanya begini: Ibu-ibu Kesal Harga Beras Naik Terus, Bandingkan SBY dan Jokowi


2. Ketika Harga Jengkol Naik, beritanya begini: Harga Jengkol Naik, Pelanggan Panik


3. Ketika harga sayuran naik, beritanya begini: Harga Sayuran Naik, Ibu Rumah Tangga Resah

4. Ketika harga telur dan cabai naik, beritanya: Harga Telur Ayam dan Cabai Melonjak, Ibu Rumah Tangga Resah



Di saat harga-harga hasil pertanian naik, jarang sekali media memberitakan kebahagiaan para petani, karena mereka mendapat untung besar. Hampir selalu, berita yang berkonotasi negatif yang ditampilkan, "ibu-ibu resah, gelisah, galau, merana, panik, kesal"

Kenaikan harga hasil pertanian sepertinya merupakan "suatu dosa" dari para petani. Jangan heran, jika jumlah petani menyusut, karena masyarakat dan media seolah-olah tidak menginginkan para petani menikmati jerih payah mereka, 
Bahkan Media pun Tidak Memihak Petani (?) Bahkan Media pun Tidak Memihak Petani (?) Reviewed by Kosim Abina Aziyz on August 31, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.