Trip to Depok: Serba Pertama, Damri, dan Tukang Ojek

Salah dua yang menjadi pertimbangan -bagi saya- naik pesawat adalah: tarif dan waktu. Untuk tarif, mencari yang paling rendah (baca: termurah) sedang waktu sifatnya kondisional. Makanya saya tidak terlalu mempedulikan maskapai. Mana saja asal cocok di harga. Memang sih, saya pernah punya kesan buruk sama maskapai yang sudah "almarhum": Bat*via Air. Waktu itu mau terbang dari Balikpapan ke Surabaya, saya menggendong si kecil bersama istri. Petugasnya membentak, "ini (sambil nunjuk si kecil) harusnya membayar seperti orang dewasa." Saya marah betul diperlakukan seperti itu namun hanya bisa saya tahan. Sambil berkata dalam hati, "Jangan sampai saya naik maskapai ini! Haram!" Heheheee... Karena itulah hampir semua pesawat LCC, pernah saya coba, dengan perkecualian: Citil*nk.

Nah, berkenaan dengan perpesawatan, dalam perjalanan dari Palembang menuju Depok (8/4), saya mengalami 3 hal serba pertama sekaligus. Pertama kali naik Citil*nk, pertama kali menginjak Bandara Halim Perdana Kusuma sekaligus pertama kali pergi ke Depok.


Karena belum punya pengalaman ke Depok, apalagi melihat Halim Perdana Kusuma juga baru pertama kali (saya tiba pukul 19.30), pertama-tama saya mengandalkan rekan yang tinggal di Depok. Eh, rupanya beliau juga belum pernah ke Halim, namun agar tidak mengecewakan saya (barangkali), saya disarankan naik kereta. Just that! Mau gak mau, akhirnya saya bertanya sama Google (capek deh). Dari pencarian di halaman pertama, ada informasi bahwa bus Damri melayani penumpang ke Depok. Okeh, info ini saya anggap cukup. Setelah menunggu bagasi, saya langsung menuju loket Damri yang ada di ruang "kedatangan" di Bandara.

Di loket saya mendapatkan informasi dari petugas, seorang ibu paruh baya bahwa bus Damri yang melayani rute Halim-Depok tidak ada! Deg!

Kemudian saya menanyakan tentang kereta, jawaban petugas, "stasiunnya kalau jam segini sudah tutup, Mas!". Akhirnya, saya memutuskan beli tiket jurusan Halim-Bogor turun di Citeureup sesuai saran ibu petugas. Pertimbangan saya, bus ini melewati tol Jagorawi. Asumsinya cepat. Kedua, sudah malam, apalagi mendengar kalau Depok sudah menjadi Kota Begal. Takut sih nggak, orang saya nggak punya apa-apa tapi saya nggak mau dibegal. Saat menuju ke bus Damri, saya dipepet tukang ojek yang memaksa saya untuk ikut dengannya. Saya bilangin kalau saya sudah ada tumpangan, eh, dia tidak percaya. Masih juga mengejar. Hampir saya bilangin, "Mang, sini saya kasih tanda tangan saja!". Salut saya sama semangatnya yang pantang menyerah!


Baca: Trip to Jogja #1: Pramugari Berhijab, Trans Jogja, dan Tahu Kupat Monjali

Bus Damri yang saya tumpangi termasuk bus eksklusif, tempat duduknya itu "one person, one seat", mana ber-AC lagi, ongkosnya lumayan mahal Rp40.000,00 (tumben penulisan mata uangnya baku). Tapi nggak apa-apa dah daripada jalan kaki bisa tersesat saya di belantara Jakarta.

Singkat kata, sampailah saya di Citeureup, selanjutnya naik angkot No. 3 jurusan Cibinong, lalu lanjut lagi naik angkot No. 41 jurusan Depok. Di Depok, saya diturunkan di Simpang Depok, daerah Cilodong sana. Habis itu naik ojek.

Akhirnya, setelah dua jam dalam perjalanan dari Bandara Halim Perdana Kusuma sampai juga saya di Pesantren Hidayatullah Depok di bilangan Kalimulya.


Salah satu sudut Pesantren Hidayatullah Depok (dokpri)


Trip to Depok: Serba Pertama, Damri, dan Tukang Ojek Trip to Depok: Serba Pertama, Damri, dan Tukang Ojek Reviewed by Kosim Abina Aziyz on April 21, 2015 Rating: 5
Powered by Blogger.