Belajar Menyelesaikan Konflik dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS

 

Ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Ta’ala untuk menyembelih Ismail AS, beliau gundah gulana. Sepanjang hari beliau memikirkan perihal mimpinya. Akhirnya beliau pun memberanikan diri berdialog dengan anak.

فلما بلغ معه السعي قال يبني إني ارى فى المنام أنى أذبحك فانظر ماذا ترى قال يأبت افعل ما تؤمر ستجدنى إنشاءالله من الصابرين 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (Quran Surat Ash-Shaffat: 102)

Sebuah masalah sangat besar dapat diselesaikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS dengan sebuah dialog yang bijak. Nabi Ibrahim AS tidak menggunakan kekerasan fisik untuk memaksa anak beliau mengikuti perintah. Beliau juga tidak menggunakan serangan kata-kata yang keras layaknya orang tua kepada anaknya.

                                              * * * * * * *

Ada empat tahapan penyelesaian konflik sesuai tahap perkembangan anak, yaitu:

Tahapan I, Pasif (Passive)

Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya

Bayi Tidur

Tahapan II, Serangan Fisik (Physical Aggression)

Anak-anak usia pra-TK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalahnya dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum, berteriak, menggigit, menendang, memukul, dan melempar benda. ia belum bisa mempunyai perbendaharaan kata-kata untuk mengatasi persoalannya. Saat ingin mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia langsung memukul.

Anggota DPR yang adu jotos saat sidang, tak jauh beda dengan sifat anak usia pra-TK yang masih berada pada tahapan kedua dalam menyelesaikan masalah: serangan fisik

anggota dpr

Tahapan III, Serangan Kata-Kata (Verbal Aggression)

Ketika anak menginjak usia TK (4 -6 tahun) maka serangan fisik akan berkurang, namun mereka mulai memahami kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap serangan kata-kata. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata : “bajumu jelek!”.

Serangan verbal semacam ini kadang-kadang bisa kita jumpai pada tayangan Indonesian Lawyer Club, misalnya lihat pada gambar di bawah ini adu mulut antara Ruhut Sitompul vs Hotman Paris Hutapea

ruhut vs hotman

Tahapan IV, Bahasa (Language)

Pada tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat positif, tidak kasar, dan tidak menghakimi. Hal itu tercermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang masuk SD sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok. Anak itu berkata,”Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya menjawab,”Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya.

Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS kecil menggunakan language sebagai cara menyelesaikan masalah yang luar biasa besar. Cara yang justru jarang dilakukan oleh bangsa ini. Padahal bangsa Indonesia mempunyai pepatah Bahasa Menunjukkan Bangsa maksudnya barangkali ya seperti artikel di atas ini. Jika kita menyelesaikan masalah tidak dengan “bahasa” maka tidak dapat disebut sebagai “bangsa”. Betul kata Gus Dur yang pernah berkata “DPR kok seperti anak TK”.

Quote: “DPR kok seperti anak TK”, kata KH Abdurrahman Wahid

 

Bahan: Majalah Hidayatullah, edisi bulan Nopember 2011

Gambar diambil dari Google

Belajar Menyelesaikan Konflik dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS Belajar Menyelesaikan Konflik dari Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS Reviewed by Kosim Abina Aziyz on June 06, 2012 Rating: 5
Powered by Blogger.