Dinasti-dinasti di Dalam Demokrasi

Tidak lama lagi, kabupaten tetangga, Kutai Kartanegara akan mengadakan Pilkada untuk yang kedua kalinya. Saya tidak akan membahas tentang dukung-mendukung cabup tertentu. Hanya ingin mengeluarkan ganjalan terhadap adanya fenomena dinastisme dalam demokrasi di Indonesia dan Asia pada umumnya. Telah kita ketahui bahwa mekanisme demokrasi dijalankan dengan pemilu yang diikuti oleh partai-partai politik.

Demokrasi awal yang dipraktikkan di Yunani Kuno, mempunyai definisi "dari, untuk, dan oleh rakyat", artinya seluruh rakyat mempunyai peluang dan hak yang sama di bidang politik. Di sini terdapat nilai egalitarianisme begitu terasa. Saat ini, definisi demokrasi di dunia sudah bergeser menjadi "dari, untuk, dan oleh pemilik modal". Di dunia Timur malah lebih unik lagi. Sebagai wilayah dengan tradisi feodalisme yang masih kuat, demokrasi malah dijadikan pembenaran bagi keberlangsungan rezim dinasti. Tentu saja, didukung oleh kekuatan korporasi. Dengan kata lain, yang sedang berlaku adalah sistem oligarkhi berkedok demokrasi.

Beberapa contoh adanya dinastisme dalam demokrasi -di dunia yaitu
1. Partai Kongres India dikuasai oleh keluarga Gandhi. Mulai dari Indira Gandhi, Rajiv Gandhi, dan sekarang Sonia Gandhi.
2. Partai Rakyat Pakistan dikuasai oleh keluarga Bhutto.
3. PDIP di Indonesia dikuasai keluarga Soekarnoputri. Ayah, Ibu dan Putri semuanya menjadi pengurus teras.
4. Keluarga Aquino di Filipina juga mempunyai kecenderungan yang sama
5. PM Malaysia ke-2 anaknya juga menjadi PM. Begitu pula yang terjadi di Singapura, antara Lee Kuan Yew dan putranya. Partainya lupa namanya.
6. Negara komunis Korea Utara juga sama, kekuasaann PKKU-nya diwariskan cq. Kim Jong- Il dan Kim Il-Sung
7. Keluarga SBY yang berada di Partai Demokrat. SBY sebagai Ketua Dewan Pembina, putranya Ibas anggota DPR RI
7. Bahkan partai lokomatif reformasi sekelas PAN tidak bisa menghindari. Putra-putra Bpk. Amien Rais juga ikut terlibat seperti Mumtaz Rais.
8. PKB dikuasai oleh "link Jombang". Muhaimin Iskandar, keponakan Gus Dur dan Putri Gus Dur, Yenni Wahid duduk di pengurus pusat PKB, meskipun beda versi.
9. Keluarga Hariri di Lebanon
10. Hampir lupa, ketua Parti Keadilan Rakyat di Malaysia pun "diwariskan" dari Anwar Ibrahim ke putrinya Nurul Izzah.

Nah, kembali ke Pilkada Kutai Kartanegara, Ketua Golkar, Rita Widyasari yang akan maju dalam pilbup adalah putri dari dari Pak Syaukani, Bupati dan Ketua Golkar yang dulu. Sama kan? Dengan alasan demokrasi, fenomena dinasti seperti ini sah-sah saja, "bukankah saya dipilih secara demokratis?". Bandingkan dengan kejadian saat Rasulullah SAW wafat, beliau digantikan oleh sahabat Beliau Abu Bakar RA, bukan putri atau menantun Beliau, Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, baru Ali bin Thalib. Gaya hidup mereka juga luar biasa zuhud untuk ukuran penguasa sekelas kaisar. Contoh, Umar bin Khaththab, khalifah dengan wilayah kekuasaan di tiga benua: Asia, Eropa dan Afrika. Saat seorang nenek tua Yahudi dari Mesir ingin mengadukan permasalahannya. Dia heran dan tidak percaya saat menemuinya, seorang Khalifah yang sangat ditakuti itu sedang tiduran di bawah pohon kurma berpasir, bukan istana yang megah dengan penampilan sama seperti rakyat kebanyakan. Ketika Sayyidina Umar tahu bahwa putra beliau, Abdullah, masuk kandidat sebagai khalifah menggantikan Beliau menjelang wafat. Beliau menolak dan berkata jangan sampai menjadi khalifah gara-gara Saya, Bapaknya seorang Khalifah.
Bagi saya sebagai seorang Santri, sistem yang ideal, tentu khilafah bukan "corpocracy" eh "democrazy".
--------------------------------------------------------------
Ovi Store: Download apps, games, videos and more
http://store.ovi.com/?cid=ovistore-fw-bac-na-acq-na-ovimail-g0-na-2
Dinasti-dinasti di Dalam Demokrasi Dinasti-dinasti di Dalam Demokrasi Reviewed by Kosim Abina Aziyz on January 29, 2010 Rating: 5
Powered by Blogger.