Jilbab Bukan Budaya Arab

Seorang Muslimah diambil dari situs Flickr

Kaum muslimah dalam mengenakan jilbab/hijab adalah dalam rangka menunaikan perintah Allah Taala seperti termaktub dalam Quran Surat an-Nuur:30-31. Budaya jilbab apabila kita baca asbabun-Nuzulnya tidak bisa dikatakan sebagai budaya Arab. Seperti disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir: III/378 bahwa asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat 30-31 surat an-Nuur sebagaimana diceritakan oleh Muqatil bin Hayyan, Ia berkata:
"telah sampai kepadaku dari Jabir bin Abdillah al-Anshary bahwa Asma' binti Murtsid adalah berkenaan dengan kunjungan sekelompok wanita ketika Asma' binti Maurits r.a. sedang berada di sebuah rumah Bani Haritsah, para wanita tersebut datang TANPA MENUTUP AURATnya, sehingga NAMPAKLAH BETISnya serta PERHIASAN YG MELINGKARI PERGELANGAN KAKI MEREKA, serta TERBUKA BAGIAN ATAS DARI DADA MEREKA serta LEHER-LEHER MEREKA, maka berkatalah Asma: Tidak ada yang lebih menjijikkan dari (pemandangan) seperti ini! Maka Allah Taala menurunkan ayat tersebut di atas (membenarkan Asma)

Dengan demikian, bisa kita ketahui bahwa sebelum perintah berhijab turun, wanita2 di zaman itu menampakkan aurat, kelihatan betis, payudara bagian atas dan leher sehingga tidak bijak untuk mengatakan jilbab sebagaimana di atas. Kalau ada orang anti-arab karena dianggap bukan dari nenek moyang mereka juga harus menolak pakaian Barat. Kalau mau ikut nenek moyang pakailah pakaian seperti yg dipakai pemain kethoprak atau boleh juga pakai koteka. Dalam hal ini, sepanjang hal itu membawa manfaat (dunia-akirat) bagi kita, sikap a priori mestinya kita tinggalkan, ganti dengan hal-hal rasional dan sesuai dengan budaya ketimuran. Adapun bila arab diidentikkan dengan Islam harap dimaklumi, Islam lahir di sana dan sudah eksis selama 14 abad.
Jilbab Bukan Budaya Arab Jilbab Bukan Budaya Arab Reviewed by Kosim Abina Aziyz on July 02, 2009 Rating: 5
Powered by Blogger.