SBY pro Neo-Liberalisme?

Hari ini, kampanye pilpres dimulakan. Namun, perang isu sudah berlangsung lama, seperti ekonomi kerakyatan, jilbab, dan neo-lib.
Bila dilihat dari "gathukologi" terdapat benang merah antara SBY dan Neo-lib yang dipandegani oleh Amerika Serikat simplenya SBY Pro AS. Gothak-gathuknya adalah sbb:
1. Nama Partai yg dibuat SBY sama dengan partai yg ada di Amrik, Demokrat
2. Elemen lambang partai Demokrat, ada pada bendera AS, yaitu warna biru, merah, dan putih. Juga strip dan bintang, dng perbedaan pada jumlah.
3. Deklarasi pencapresan SBY mirip dengan inaugurasi presiden AS
4. Saat berbicara di depan KADIN, SBY mengkampanyekan "Indolish", gaya berbahasa yg banyak menggunakan bahasa Inggris
5. Pemilihan Boediono sbg cawapres, padahal dia masih punya hubungan dengan IMF, rentenir Dunia
6. Alasan pemilihan cawapres ini, kata SBY, biar diterima dunia internasional. Tahu negara mana yg dimaksud? Apakah Zimbabwe, Chad, Mongolia, Botswana, Bolivia, Iran, Somalia, Vietnam atau Timor Leste? Tentu bukan, karena yg dimaksud SBY dng dunia internasional adalah US, UK, cs.
7. Pengakuan Megawati SP bahwa penjualan aset-aset negara dng alasan privatisasi pada masanya adalah atas usul Boediono. Bukankah kasus ini menunjukkan bahwa cawapresnya SBY pro neo-lib?
8. Anak buah SBY punya pikiran rasis, seperti kasusnya Ruhut. Pengambilan Boediono sbg cawapres juga bisa dianggap rasis sebab Jawa (Timur) sentris, tidak memikirkan bahwa Indonesia ini majemuk. Rasisme ini mirip dengan AS di mana masih terjadi diskriminasi terhadap Afro-Amerika, kaum Hispanik, dan juga Muslim. Ingat kerusuhan yg terjadi di Los Angeles awal 1990.
Adapun Mega-Pro tidak bisa disebut rasis sebab Mega punya darah Bali dan Sumatera, di samping Jawa.

Akhirnya, hidup kaum jelata!!! Ewako!!
-----------------------------------------------------------------
Ovi Mail: Available in 15 languages
http://mail.ovi.com
SBY pro Neo-Liberalisme? SBY pro Neo-Liberalisme? Reviewed by Kosim Abina Aziyz on June 02, 2009 Rating: 5
Powered by Blogger.